Artikel dalam blog ini berasal dari penulis sendiri dengan diambil dari beberbagai sumber buku ataupun internet.

Minggu, 22 Mei 2016

Ekologi dan Semangat Pembangunan Manusia



Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dalam lingkungannya ini dimukakan pertama kali oleh Ernst Haeckel (1834-1914). Berasal dari bahasa Yunani oikos (Habitat) dan logos (Ilmu). Pembahasan ekologi tidak lepas dari ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya seperti faktor biotik dan abiotik. Ekologi pun juga berkaitan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. 

Hubungan serta ketergantungan dalam berbagai komponen haruslah dipertahankan dalam kondisi yang stabil dan seimbang (Homeostatis= Kecenderungan sistem biologi/makhluk hidup untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan) dikarenakan perubahan dalam satu komponen dapat mempengaruhi komponen lainnya. Meskipun alam dapat mencari keseimbangannya sendiri jika terjadi perubahan iklim tetapi manusialah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim ke arah yang lebih negatif. Kita manusia juga merupakan bagian dari alam ini pun juga berperan andil atas terjadinya ketidakseimbangan alam yang terjadi hingga saat ini.

Sebagian dari kita terlalu bersifat pragmatis tanpa memandang apa yang kita lakukan itu apakah baik untuk lingkungan ataupun tidak. Manusia terlalu begitu berambisi dalam melaksanakan pembangunan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bersama, namun kita harus melihat dampak apakah yang terjadi dalam pembangunan itu sendiri. Kita ambil contoh, pembangunan saluran irigasi yang mengalirkan air untuk digunakan dalam menanam kapas di gurun. Dalam pembangunan konstruksi aliran irigasi ini memiliki rancangan yang buruk Sehingga Laut Aral yang dahulunya merupakan laut dalam (di daratan) terbesar keempat di dunia mulai kehilangan airnya. Ini merupakan kerusakan alam yang tidak masuk akal dimana saat laut Aral yang dahulunya memiliki air cukup banyak menjadi tempat mata pencaharian nelayan mencari ikan menjadi kurang daya gunanya dalam menyediakan ikan bahkan menjadi seperti gurun dengan kapal-kapal yang berada di tengah-tengah gurun tersebut.

Bahkan dalam beberapa kasus banyak terjadi perubahan dalam lingkungan. Ekologi kita memang sedang bertabrakan dengan perkembangan zaman saat ini. Dimana manusia yang ingin mempermudah kehidupannya serta mencukupkan kebutuhannya harus berhadapan dengan lingkungan alam yang menjadi tempat mereka tinggal dan hidup. Dalam permasalahan ekonomi dimana “Manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas tetapi alam hanya memberikan itu semua dengan terbatas” menyebabkan manusia mencari segala cara dalam membentuk masyarakat yang semakin sejahterah.  Dalam pencarian ini manusia akan melakukan segala cara dalam mencapai tujuan itu baik itu tanpa menganggu keseimbangan alam di bumi ini ataupun menganggu keseimbangan alam. Memang alam dapat mencari keseimbangannya sendiri. Dapat kita lihat disaat air limbah ataupun kotoran yang dibuang ke sungai pasti akan mengandung racun dan akan mengalir ke laut kenapa masih ada beberapa ikan dapat hidup meskipun terdapat racun dalam limbah itu. Ini tentu dikarenakan laut dapat melakukan pencucian terhadap air yang masuk ke laut. Sehingga tidak semua ikan akan mati karena keracunan. Dilihat saat ini dengan banyaknya limbah yang semakin banyak dengan berdirinya pabrik dipinggir sungai dengan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah apakah alam akan secara cepat dalam mencari keseimbangannya?. Tentu ini akan menjadi beban yang berat saat bumi terus menerus menerima kerusakan yang diakibatkan faktor non-alam.

Manusia yang menjadi makhluk paling dominan di permukaan bumi ini tentu haruslah memperlakukan alam dengan bijaksana. Semangat pembangunan manusia dalam zaman modern ini sangatlah tinggi dengan banyaknya pembangunan dimana-mana baik itu pembangunan perumahan ataupun pembangunan lainnya. Manusia ingin menjadi dirinya menjadi makhluk yang beradab tetapi apakah sikapnya dengan melakukan alam yang menjadi tempat mereka tinggal telah diperlakukan dengan beradab. Disaat alam yang menjadi tempat mereka tinggal ditabrak dengan semangat pembangunan. Ketika batang-batang kayu berubah menjadi batang-batang baja, daun-daun hijau diubah menjadi daun-daun jendela serta bukit-bukit terbelah menjadi dua untuk dikeruk pasir dan isinya dengan eksploitasi yang besar untuk pembangunan di tempat yang lain.
  • Usaha Dalam Melindungi Ekologi
Dalam sebuah teori yang dikenal dengan teori hijau bahwa isu-isu lingkungan merupakan sesuatu yang bukan sekadar politik rendahan. Persoalan politik tingkat tinggi juga berkaitan dengan politik ringan (soft politics) seperti isu-isu lingkungan, perdamaian dan perempuan. Misalnya kita dalam perperangan antar negara, negara yang berperang kelak akan menggunakan senjata kimia untuk memenangkan perperangan meskipun penggunaan senjata ini dilarang dalam konferensi internasional tentu saja dalam perperangan sebuah negara ingin memenangkan perperangan dengan cara apapun walaupun dengan menggunakan senjata kimia. Tentu saja senjata kimia ini akan mengancam lingkungan sekitarnya sehingga lingkungan akan tercemar atau terkonstaminasi dengan zat-zat dari senjata kimia itu.

Teori hijau ini muncul dalam ranah dunia internasional pada 1960an ketika pasca Perang Dunia II. Pada tahun 1980 teori ini mulai mengkritik liberalisasi dan melihat isu-isu nyata ketika perang dingin dimana yang banyak mengakibatkan kerusakan lingkungan secara berlebihan (Jackson & Sorensen 2009, 322-323). Kemunculan teori hijau ini didasari atas adanya anggapan anthropocentrism yang melihat manusia di dunia ini terlalu egois dan mementingkan diri sendiri yang sering mengakibatkan kerusakan lingkungan, karena itu lah teori ini sangat ecological-centric. Jumlah masyarakat yang semakin meningkat, paling tidak di negara-negara Barat, yakin bahwa aktivitas sosial dan ekonomi manusia sedang berlangsung dengan cara yang mengancam lingkungan hidup. Melihat keharusan adanya keadilan tidak hanya manusia melainkan makhluk hidup lainnya (social justice) juga menjadi alasan munculnya teori hijau. Pemikir dalam teori ini melihat semakin tingginya ekonomi di suatu tempat justru kerusakan lingkungan yang diakibatkan akan semakin tinggi.

Teori ini merupakan teori alternatif dalam bidang ilmu hubungan internasional dikarenakan permasalahan lingkungan tidak hanya menjadi ranah sebuah negara saja, tetapi ranah dalam lingkup negara yang luas. Dalam pemahamannnya bahwa pembangunan dan globalisasi berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan tentu menjadi ancaman tidak hanya satu negara saja. Tentu dalam teori ini berusaha untuk mengurangi dampak dari ancaman kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Selain itu manusia yang memiliki keunggulan lebih dibandingkan seluruh makhluk hidup memiliki kemampuan untuk berpikir dalam mengartikan arti ataupun tanda-tanda dari lingkungan saat terjadi nya sebuah anomali dalam lingkungan. Melalui informasi-informasi yang didapatkan dari penelitian diberbagai bidang ilmu pengetahuan. Tentu saja informasi yang didapatkan ini dapat digunakan sebagai media analisa untuk memprediksi perubahan terhadap lingkungan. Dalam analisa yang telah dibuat dapat menentukan seberapa parah kerusakan lingkungan yang dapat menganggu keseimbangan alam di bumi ini.

Keseimbangan alam dan ekologi yang menjadi rusak akibat semangat pembangunan manusia tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan haruslah dikurangi. Meskipun kerusakan lingkungan tidak dapat dihilangkan secara tuntas tetapi dapat kita minimalisir dampak nya terhadap lingkungan. Kerusakan lingkungan dan terganggunya keseimbangan alam bukanlah tanggung jawab seorang saja tetapi tanggung jawab kita semua. Disaat rusaknya satu bagian lingkungan akan memberikan dampak secara tidak langsung terhadap kita bahkan dampak langsung pun dapat kita alami. Kita ambil rusaknya lingkungan hutan yang disebabkan penabangan liar ini tentu saja akan mengurangi cadangan air di dalam tanah bahkan dapat menyebabkan gerak tanah yang akhirnya menjadi tanah longsor. Ini merupakan dampak yang buruk disaat rusak keseimbangan alam. Tidak ada kata lagi selain menjaga lingkungan, marilah kita jaga lingkungan serta kita kawal penggunaan lahan agar tidak terjadinya dampak akibat rusaknya lingkungan. Pembangunan dapat saja menjadi pilihan terbaik dalam memajukan perdaban manusia tetapi bumi yang menjadi tempat tinggal harus lah kita hormati karena disinilah kita tinggal dan hidup. Hidup Lingkunganku.

Sumber Pustaka :
Gore,Al.1994.”Bumi Dalam Keseimbangan: Ekologi dan Semangat Manusia” dari judul asli “Earth in the Balance: Ecology and The Human Spirit” diterjemahkan oleh Hira Jhamtani.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.

Salim,Amelda. “Teori Politik Hijau”.http://www.academia.edu/6110045/Politik_Hijau . Dikunjungi pada 13 Mei 2016.

Putu,Dewa Ayu.”Teori Hijau, Warna Baru dalam Hubungan Internasional.” http://dewa-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-82136-THI-Teori%20Hijau,%20Warna%20Baru%20dalam%20Hubungan%20Internasional.html dikunjungi pada 13 Mei 2016

1 komentar: